Sejarah ditolaknya Imam syafii oleh Ibundanya

oleh KH. Yahya Al Mutamakkin

Alhamdulillah….Setelah mengisi ke berbagai acara,  Abah Yahya tetap menyempatkan dirinya untuk mengisi di pondok pesantren walisongo. tepatnya dini hari bada sholat subuh berjamaah. Awalnya Abah Yahya menjelaskan sekilas sejarah firaun dan qorun yang kaya raya namun hina dan hancur karena tidak memiliki ilmu agama.

Setelah itu menjelaskan sekilas sejarah ashabu kahfi yang dikenang sejarahnya menjadi mercusuar hingga saat ini karena menyelamatkan iman dan aqidah mereka.

Santri nampaknya semakin semangat nan khusu mendengarkan tausiah Abah yahya.

tidak lama kemuadian Abah Yahya menjelaskan kisah daripada Imamuna, Imam Syafii.

Dari pertama perjanan Imam Syafii, umur 7 tahun telah menghafal Alqur’an, umur 9 tahun telah hafal dari pada ilmu-ilmu Imam Azzanji dan umur 15 tahun imam Syafii telah menghafal dari pada kitabnya imam Malik serta sudah menjadi Qodi.

“wahai syafii ilmu-ilmuku telah habis, semua sudah kamu hafal, sebaiknya kamu pulang ke Mekkah dan mengajar disana” ucap Imam Malik.

“wahai imamku, sesungguhnya saya masih ingin merantau tuk mencari ilmu agama ke negeri Baghdad” jawab Imam Syafii dengan sopan. Singkat cerita sang Imampun meridhoi dan memberikan 15 kanton yang berisi dinar.

“uangku sudah habis, saya shodaqohkan untuk perjalanan kamu menuju negeri Baghdad”

Niatnya untuk belajar di kota Baghdad, justru masyarakat Baghdad mengusung Imam Syafii untuk menjadi imam besar dan menjadi pengajar disana. setelah dapat salam dari ibundanya, Imam Syafii bergegas untuk pulang dan masyaraat Baghdad menghadiahkan hingga 100 unta berikut isi-isinya. setelah sudah didepan gerbang Mekkah salah satu dari pengawalnya yang tentu juga utusan dari kenegaraan Baghdad menghadap ibundanya untuk memberi kabar bahwa Imam Syafii sudah datang dan dikabari membawa 100 unta berikut isi-isinya.

” Bilang ke Muhammad bin Idris, saya menyuruh untuk membawa ilmu bukan harta. saya tidak mengizini Muhammad masuk kerumah” ucap Ibundanya dengan tegas.

singkat cerita Muhammad langsung menghibahkan semua tanpa sisa  untuk penduduk mekkah.

dan akhirnya Imam syafii menghadiri sang bunda dengan tidak membawa harta sedikitpun, dan akhirnya sang bunda dan ananda bertemu dan memeluk sambil menangis senang bisa lagi bersama dalam sejuta keberkahan.

itulah sedikit yang kami dapat simpulkan daripada tausiah Abah Yahya Al- Mutammkin..

semoga bermanfaat..aamiin..

 

 

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *