Kisah Syekh Asma’I, Membuktikan keagungan ilmu

 KH. Aba Yahya Al Mutamakkin (13 februari 2017 M ) di Aula Putri walisongo bersama Kiayi M. Fahmi Mubaroq

KH. Aba Yahya Al Mutamakkin (13 februari 2017 M ) di Aula Putri walisongo bersama Kiayi M. Fahmi Mubaroq

Dikisahkan oleh KH. Aba Yahya Al Mutamakkin di pondok pesantren walisongo Pontianak (13 februari 2017 M ) di Aula Putri

Dikisahkan bahwa Asma’I adalah anak yang yatim dan fakir, tidak banyak memiliki harta benda bahkan pakaiannya hanya dua, namun Asma’I sangat semangat dalam mencari ilmu serta sangat tinggi cita-citanya, tercatat 10 kali dalam seharinya untuk pergi ke majlis-majlis menimba ilmu kepada ulama-ulama basroh (Iraq). Setiap hari as-Asma’Idengan istiqomah menjalankan aktifitas mencari ilmunya. Banyak ilmu-ilmu yang ia pelajari seperti ilmu bahasa yang mencakup ilmu syair, nahwu, shorrof, balaghah, mantiq, bayan dan ilmu fiqh yang mencakup usul, qowaid dan ilmu-ilmu dhorori yang mencakup tauhid, aqidah serta tasawwuf dan sebagainya. Pada suatu hari Asma’I diuji oleh Allah melalui tentanganya yang kaya itu dengan selalu meledeknya. ” as-Sama’I, kamu mau kemana tiap hari mundar mandir seperti tidak jelas aktivitasmu”, kata tetangga itu dengan nada ngeledek. “saya mundar mandir untuk menimba ilmu keberbagai masyayekh yang ada di Iraq ini”, jawab as-Sama’I dengan sopan. “ Tau nga kamu, sesungguhnya minyak-minyak ini lebih berharga dari kitab-kitab yang kamu bawa itu”?. Tanya lagi tetangga itu pada Asma’I. Asma’I terdiam dan lanjut pulang menuju rumanya, Asma’I diam bukan berarti tidak menjawab namun Asma’II bergumam dalam hatinya. “saya akan buktikan bahwa ilmu lah yang sangat mulya”. Asma’I langsung tidak tinggal diam bermunajat dengan istiqomah. “ Ya Allah ampunilah hamba serta buktikanlah kepada mereka yang merendahkan ilmu agama” Do’anya/pintanya pada Allah SWT. Tidak lama kemudian terijabahlah doanya melalui panggilan dari gubernur basroh. Sautu hari datanglah pegawai dari utusan gubernur yang mencari Asma’I “ dimanakah alamar rumah Asma’I”….dimanakah alamat rumah as-Sama’I…” begitulah seruan dari pegawai gubernur itu. Semua orang keluar bertanya-tanya. “ada apa ini…ada apa ini..ko pegawai dari gubernur manggil-manggil Asma’I si fakir itu” tanyanya masyarakat sekitar rumah Asma’Idengan penuh keheranan. Dan akhirnya berjumpa dengan as-Sama’I serta banyak berbincang-bincang dan akhirnya Asma’I pergi ke kota basroh memenuhi panggilan sang gubernur, dan gubernurpun menceritakan kepada Asma’I bahwa kholifah bagdad telah meminta kepada ulama-ulama untuk mencari guru private anaknya yang bernama sulaiman dan adeknya sulaiman kepada ulama-ulama. Singkat cerita ulama-ulamapun telah merekomendasikan bahwa yang patut jadi guru dari kedua anak kholifah adalah Asma’I. akhirnya as-Sama’ipun pergi ke istana kholifah memenuhi sebagai mana yang telah gubernur ceritakan pada Asma’I. Singkat cerita Asma’I disambut dan dimulyakan kedatangannya oleh sang kholifah berikut bala tentaranya serta as-Sama’I di beri gaji yang sangat tinggi (2 milyar/bulannya). Selama 3 tahun lebih Asma’I sukses mendidik hati kedua anak tersebut dengan akhaq, tauhid, tasawwuf, ilmu tatanegara, hafal alqur’an dan ilmu-ilmu lainny. Asma’I telah merasakan bahwa kedua anak kholifah telah menguasai dari segala ilmu yg Asma’I berikan akhirnya as-Sama’I meminta pada kholifah untuk pamit ke kampungnya (basroh) dan kholifah pun menyetujuinya dengan syarat Asma’Iharus merima hadiah yang kholifah berikan dan hadiah tersebut boleh apa saja yang Asma’I mau, Asma’I tidak menerima karena selama ini sudah cukup dengan gaji yg besari itu dan harta-harta Asma’Ipun sudah dimanfaatkan untuk pembangunan-pembangunan, perumahan-perumahan dan pembangunnan lainnya. Karena sang kholifah selalu meminta dan meminta akhirnyapun as-Sama’I merima dengan permintaan agar dibuatkan surat pemberitahuan kepada gubernur basroh agar perpulangan Asma’I di sambut oleh bala tentaranya dan semua masyrakatnya. Pulanglah Asma’I ke kota basroh dengan ratusan pengawal dari kekholifahan dan disambutlah Asma’I oleh Gubernur dan ribuan penduduknya.

Ada berapa tujuan Asma’I meminta sebagai diaatas.

  1. bukan untuk pamer dan sombong hanya agar masyarakat sekitarnya sadar bahwa dengan ilmu orang-orang, siapa saja akan mulya karena ilmunya. Barang siapa yang ingin meguasai dunia dan sukses diakhirat maka carilah ilmu agama. (Hadist).
  2. Agar anak-anak termotivasi dengan Asma’I yang fakir, semangat dan dimulyakan itu
  3. Agar dijadikan figure of lacture bagi anak anak muslim.

Semoga bermanfaat…

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *